Nama jatikalen merupakan gabungan dari nama dua dusun yang ada di Desa, yaitu Jati dan kalen. Asal usul nama jati dan kalen ini sampai saat ini tidak terlacak dalam sejarah desa, justru Sejarah desa Jatikalen dimulai dari dusun Songsong. Nama Songsong dalam bahasa Jawa berarti payung. Ketika kerajaan Kediri runtuh, maka pewaris kerajaan dan pengikut setia melarikan diri ke hutan.
Dalam pelarian tersebut rombongan beristirahat di salah satu pohon besar di dusun Songsong yang kala itu juga masih hutan lebat. Setelah merasa cukup beristirahat rombongan melanjutkan perjalanan, namun payung penanda kerajaan tertinggal. Dari situlah akhirnya nama Songsong menjadi nama salah satu dusun di Jatikalen.
Desa Jatikalen terbagi menjadi 4 dusun yaitu : Jati, Songsong, Kalen dan Kedung Tunggak.
Dari keempat dusun hanya di dusun Songsong yang terdapat tradisi nyadran ( bersih desa) yaitu upacara tradisional wujud syukur masyarakat Song song atas hasil panen. Masyarakat semua memasak makanan paling enak dan berbondong bondong membawanya berupa tumpeng ke tempat kepala dusun. Setelah acara tumpengan maka dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional Tayub. Tradisi ini masih lestari sampai sekarang.
Hingga saat ini Desa jatikalen telah dipimpin oleh lima (5) orang. Adapun nama – nama Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Jatikalen antara lain : Kasan Pawiro, Suratemin, Sukamto, Seger, Suyud Eko Suyono, dan Imam Khudori yang masih menjabat sampai saat ini. Demikian asal usul Pemerintahan Desa Jatikalen.