Sejarah Desa Gondangwetan



Sejarah Desa Gondangwetan

Desa Gondangwetan berdiri pada tahun 1805, terbukti adanya sebuah cungkup/Punden. Di situ ada makam 4 orang dan makam tersebut akhirnya ditelusuri untuk mencari tahu keberadaan makam yang terletak tepat di pojok timur utara Desa Gondangwetan. Akhirnya makam tersebut diceritakan oleh Narasumber Kyai Haji Abdulloh Hasim, beliau orang ketiga yang menempati Desa Gondangwetan. Setelah ditanya, Desa Gondangwetan sudah ada dengan batas-batas sebelah utara hutan, sebelah barat Desa Ngasem, sebelah timur Desa Jatikalen dan sebelah selatan Suangai Widas. Dengan luas keseluruhan 135,5 Ha

Informasi menurut responden Kyai HAji Abdulloh Hasyim, asal-usul Desa Gondangwetan hasil kerja keras Kaki Purbo dengan sebutan Mbah Soro dan Nini Soro, tidak lama kemudian datanglah dua orang Kaki Rawuh dan Nini Rawuh dan asal usul Mbah Purbo dan Mbah Rawuh tersebt dari Karaton Ngajokjakarta Jawa Tengah. Beliau seorang pejuang yang mengasingkan diri mencari tempat persembunyian yang jauh dari jangkauan musuh. Di sebuah hutan belantara ada sebuah pohon yang amat sangat besar nama pohon terbut GONDANG, setelah merasa aman akhirnya bertempat tinggal di situ dan dari situlah berdiri sebuah desa yang dinamakan Desa Gondangwetan.

Pertama kali Desa Gondangwetan ditempati Penduduk termasuk Kyai Haji Abdulloh Hasyim setekah berkembang penduduk akhirnya terbentuk seorang Lurah/Pemimpin, yang pertama kali dipimpin seorang Lurah yang bernama ;

 

1). KROMO TONO                            (tahun 1915 s.d 1925)

2). TO PRAWIRO GEMBOK           (tahun 1925 s.d 1935)

3). HARJO SENTONO TAMIRAN  (tahun 1935 s.d 1950)

4). TARIADI                                      (tahun 1950 s.d 1957)

5) ROSODO                                       (tahun 1957 s.d 1964)

6). NGAJIMAN                                 (tahun 1964 s.d 1970)

7). NGAJIMUN                                  (tahun 1970 s.d 1990)

8). MARJAN                                      (tahun 1990 s.d 2007)

9).MOHAMMAD ARIF                    (tahun 2007 s.d 2013)

10) MUSKODO                               (tahun 2013 s.d 2019)

11) JAINI                                         (Tahun 2019 s.d 2025)

Pada tahun 1970 setelah Ngajimun terpilih menjadi Lurah Desa Gondangwetan mempunyai Visi mengubah adat istiadat lama, yang dulunya apabila diwaktu sedekah Desa membiasakan mendatangkan TELEDEK/Tayub di punden desa dengan hasil musyawarah Tokoh agama Islam dan Tokoh Masyarakat Desa diadakan tahlil dimakam Mbah Soro dan Nini soro serta Mbah Rawuh dan Nini Rawuh.

Dengan adanya adat istiadat pada waktu sedekah desa ada seseorang berpura-pura kesurupan minta untuk di datangkan Teledek tetapi Iman Lurah Ngajimun sangat kuat bahkan tidak goyah sedikitpun dan keputusan yang disepakati bersama tetap dijalankan Tahlil di makam hingga sekarang. Karena pendiriannya termasuk Kyai Haji  Abdulloh Hasyim, tahun demi tahun perkembangan agama Islam senakin pesat, yang dulunya Mushola, sekarang dirubah menjadi bangunan Masjid yang kokoh, atas kerjasama Tokoh Agama Islam dan Tokoh Masyarakat Desa Gondangwetan. Pada tahun 1960 Pemuda Masjid tidak mau ketinggalan, mereka mendirikan Persatuan Pencak Silat yang diprakarsai oleh ke lima Pendekar yang bernama : 1) M. Yunus, 2). Bakri, 3). Kyai Umar Abdullah, 4).Tasiyo, 5).Kabul..

Desa Gondangwetan mulai adanya Pendidikan Dasar pada tahun 1968. Pada waktu itu hanya memiliki 2 lokal kelas 3-6. Bertempat di rumah-rumah penduduk. Setelah tahun 1976 baru berdiri sebuah gedung SD IMPRES di Desa Gondangwetan pada tahun 1980.

Mayoritas Penduduk Desa Gondangwetan berprofesi sebagai petani, bahkan pernah mewakili Petani tingkat Nasional di Sulawesi untuk mengikuti lomba KLOMPEN CAPIR, Kelompok Tani SUMBER PAWON Desa Gondangwetan pernah mempunyai kejayaan selama 6 tahun yang diprakarsai oleh saudara Surateno.

Desa Gondangwetan juga mempunyai gedung TPA (Taman Pendidikan Agama) yang dikelola Ust. Nasta’in sejak tahun 1990 dengan adanya tempat pendidikan agama generasi penerus agama Desa Gondangwetan semakin maju.

Pada tahun 2005 Desa Gondangwetan mendapat Sumur Artesis dengan kedalaman 260 meter dari Kabupaten Nganjuk guna untuk memperlancar pengairan lahan pertanian. Tanpa diduga setelah pengeboran selesai keluarlah air panas dari pengeboran tersebut. Setelah dianalisa oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, bahwa air tersebut tidak mengandung belerang yang sangat berguna bagi kesehatan manusia dan tanaman sekitar Sumber Mata Air.

Desa gondangwetan punya kebanggaan tersendiri dengan adanya Sumber Air Panas  yang mencapai 75 derajat. Jga dipastikan dapat mengobati penyakit rematik dan pegal linu. Setelah dikunjungi dan di survai Dinas PariwisataNganjuk, akan diprioritaskan  pembangunan kolam renang dan pariwisata Air Panas.

Hasil penelusuran sejarah Desa dari korespondensi Kyai Haji Abdulloh Hasyim (Alm) yang di ceritakan oleh cucunya yang bernama TOHIR, seandainya ada kurang lebihnya mohon maaf dalam penulisan sejarah asal usul Desa Gondangwetan.

 

Secara geografis Desa Gondangwetan terletak pada posisi 7°31'0” Lintang Selatan dan 111°54'0” Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 156 m di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS kabupaten Nganjuk tahun 2014, selama tahun 2014 curah hujan di Desa Gondangwetan rata-rata mencapai 2400 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04  mm.

Secara administratif, Desa Gondangwetan terletak di wilayah Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan kawasan hutan, di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ngasem Kecamatan Jatikalen, di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Rowomarto Kecamatan Patianrowo sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Jatikalen Kecamatan Jatikalen.

Jarak tempuh Desa Gondangwetan ke kota kecamatan Jatikalen adalah 0,5 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 5 menit dengan kendaraan bermontor. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota kabupaten adalah 40 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam