Desa Ngasem Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk berdiri pada kisaran tahun 1714 terbukti adanya patung yang ditemukan pada waktu penggalian kuburan dan akhirnya patung tersebut diteliti oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Nganjuk sehingga berkesimpulan pada kisaran tahun tersebut diatas desa Ngasem sudah ada atau sudah terbentuk. Letak geografis desa Ngasem di garis Lintang 70 30 menit 53 detik, dan garis Bujur 1120 6 menit 44 detik dengan ketinggian 55 meter diatas permukaan laut, luas wilayah desa Ngasem 158,760 ha terdiri dari luas Perkarangan 26,990 ha, luas Tegalan 30 ha, luas sawah 99,770 ha, lain-lain 2 ha, hanya memiliki 1 (satu) dusun yaitu Ngasem namun di desa Ngasem ada istilah sebutan dusun Ndoro tetapi bukan dusun resmi dan tidak ada kamituwonya,
Menurut informasi yang kami dapat dari responden sebut saja namanya Mbah sutaji (Modin) alm, dan Mbah Hastromunadi (alm) pemerhati adat istiadat desa Ngasem, mengatakan sebelum datang Mbah Singowo dan Mbah Singokerti desa Ngasem pada saat ini hutan belantara yang tidak ada penghuni. Asal-usul nama desa Ngasem berasal dari kata Asem (Pohon Asem) Tamarindus Indica, dan menurut ceritanya di kerajaan Mataram pecah perang dan para prajurit Mataram banyak yang melarikan diri karena terdesak pada peperangan tersebut dan akhirnya di hutan belantara yang dapat di tumbuhi pohon asem itulah Punggawa Kerajaan tersebut menetap. Hutan tersebut diberi nama Ngasem, memang disini tempat yang paling nyaman dan ada daya tarik tersendiri dibandingkan hutan-hutan yang telah dilalui kerajaan mataram hingga sampai di hutan yang banyak ditumbuhi pohon asem yang sampai sekarang disebut desa Ngasem.
Letak perkampungan desa Ngasem pada saat itu berada di sebelah selatan sungai Widas warga Ngasem menyebut Tegalan Kedung Birunya cinta, karena letak Perumahan penduduk tersebut sering tergenang banjir akhirnya pindah ke utara sungai hingga sekarang dan perkampungan lama jadi tegalan.
Hari demi hari bulan demi bulan dan tahun demi tahun disuatu hari ada segerombolan Brandal sakti dan terkenal bengis yang akan meramapas harta warga Ngasem namun dengan kegagahan dan kepiawaian Ki Demang Tegopati akhirnya brandal tersebut di kembalikan akan tetapi sebelum pulang berandal tersebut diajak makan-makan dan disembelihkan kerbau di bawah pohon asem yang terletak diselatan sungai desa Ngasem (Ngasem Kidul Kali) dan para Berandal / Perampok dijanji jangan pernah merampas harta warga Ngasem, karena Mbah Singokerti namanya sudah dikenal sakti dan banyak srategi perang, para Berandal takut dan menuruti apa yang dikatakan Mbah Singokerti, setelah peristiwa tersebut desa Ngasem aman tentram guyup rukun dibawah kepimpimnan Mbah Singokerti, karena perilakunya yang terkesan NEKAD sehingga warga masyarakat memberi julukan TEGOPATI artinya Rela Mati demi mengayumi dan melindungi warga desa Ngasem, dan julukan tersebut akhirnya diabadikan pada waktu menjadi Lurah atau Demang dengan julukan Ki DEMANG TEGOPATI.
Kebiasaan atau adat istiadat Ngasem yang menonjol setiap tahunnya mengadakan Sedekah Bumi yang prosesi upacara adat dengan menabuh Gamelan / Tayub dengan gending Eling-eling disetiap Makam Pejuang Ngasem,orkes dangdut koplo sapu lidi. Makam Mbah Doro-doro, Makam Eyang Tegopati, dan Makam Mbah Singowongso dikandung maksud generasi penerus suapaya tetap eling dan waspada dan supaya mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah berjuang demi membela Negara atau desa kita.
Desa Ngasem merupakan desa Tertua di wilayah kecamatan Jatikalen jadi orang menyebut DULUR TUWO yang artinya Saudara Tua yang lahir lebih dulu sebelum desa lainnya memang dari hasil penelusuran kami, nama desa yang ada di Jatikalen ada kaitanya dengan nama desa Ngasem.
Makam Eyang Tegopati menurut kepercayaan orang Ngasem pada era 70an dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di desa Ngasem. Dulu pernah terjadi pencurian namun pencuri tersebut tidak mengaku karena tidak ada bukti, akhirnya dengan bantuan sesepuh desa memilih jalan alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan cara yang kehilangan dan yang dicurigai mencuri sama-sama memakan tanah yang ada di makam tersebut akhirnya selang beberapa hari bisa diketahui kalo orang tersebut benar-benar mencuri karena orang tersebut langsung sakit perutnya membesar akhirnya meninggal, karena pada waktu diangkat sumpah atau dalam prosesi angkat sumpah pencuri tersebut sudah dijelaskan akibatnya bila bersalah pasti akan kena kutukan/azab Allah SWT jadi tidak dapat disembuhkan.
Hal lain yang pernah terjadi setiap ada peristiwa penting atau pergantian Kepala Desa sering muncul dan berpesan dalam proses Pilkades jangan ada kekerasan dan suapaya tertib, namun kemunculannya hanya orang-orang Alim/Ahli Tirakat yang tau. Hasil penelusuran kami yang pernah menjadi Kepala Desa / Lurah, kami hanya menemukan :
Desa Ngasem sangat berpotensi terutama di bidang pertanian di samping tanahnya masih subur, pengairannya lancar dan harga sewa / beli disini masih rendah jadi sangat cocok bagi warga yang senang budidaya dibidang tanaman pangan, banyak orang luar yang tertarik membeli tanah atau bersahasa di desa Ngasem, di bidang lain peternakan juga menjadi andalan mata pencaharian selain bercocok tanam.
Desa Ngasem di Era 80an juga pernah menjadi saingan dari desa sengkaling Malang dibidang budidaya semangka karena semangka dari desa Ngasem mempunyai ciri dan rasa yang bisa melebihi semangka dari sengkaling namun di Era 2010 karena faktor tanahnya yang kurang mendukung, usaha tani berubah menjadi tanaman pangan.
Desa Ngasem juga memilii kelebihan lain dibidang Pendidikan terbukti pada jaman Belanda desa Ngasem sudah ada sekolahan yaitu SR yang peserta didiknya meliputi 3 kecamatan dan sekarang di desa Ngasem juga sudah ada SMP yaitu SMPN 2 Jatikalen, walaupun SMPnya baru berdiri pada tahun 1998 namun fasilitas dan mutu sudah dapat dibanggakan terbukti ada kegiatan ekstra drum band Citra Jati Bahana Nada dan lulusan TA 2009/2010 mencapai 100% dengan Danem yang cukup tinggi, apalagi sudah dalam proses SSN ( Sekolah Standart Nasional). Harapan dari masyarakat Ngasem khusunya dan warga kecamatan Jatikalen umumnya memohon ada SMK juga dibangun di desa Ngasem karena warga Ngasem siap menyediakan tanahnya untuk dibangun gedung SMK.
Kami sebagai penulis sangat menayadari informasi yang kami sajikan masih belum sedetail cerita yang sebenarnya namun kami juga memohon masukan atau Informasi dari semua pihak agar sejarah desa Ngasem bisa lebih sempurna dan lebih detail dan kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan ini dan sebagai penulis kami juga meminta maaf apabila dalam penulisan kami ada yang kurang berkenan.